Frameless (feat. Alexandra J. Wuisan) - Getah

Viewed 0 times


Print this lyrics Print it!

     
Page format: Left Center Right
Direct link:
BB code:
Embed:

Frameless (feat. Alexandra J. Wuisan) Lyrics

We don't have this lyrics yet, you can help us by submit it
After Submit Lyrics, Your name will be printed as part of the credit when your lyric is approved.

Submit Lyrics

Lyrics provided by LyricsEver.com
The History of A Rebirth
GETAH was formed in 1996, in Jakarta, Indonesia, over the ashes of Commotion Resources and Java Burn. Getah is one of the pioneers in the Indonesian crossover metal/goth/alternative rock scene. The early incarnation of Getah was heavily influenced by the likes of Jane's Addiction, Testament, Jimi Hendrix, Red Hot Chili Peppers, and Motley Crue.

After several line-up changes and few demos, the band managed to score a major label records deal with Warner Music Indonesia. The self-titled debut album was recorded in Jakarta and mixed + mastered in San Francisco, USA. It was released in 1997 with lack of proper promotional efforts from the label.

The band, with Jodie Gondokusumo on vocals, Marcel Marcive on bass and backing vocals, Beoy Feisal on guitars and Tyo Nugros (replacing Reeve who left for USA right before the album was released) did several shows and had their first music video aired for the song "Api".

As the first Indonesian band who supported the Goth-Industrial look, Getah became famous in the underground circuit thanks to its on stage antics and fashion statement. The band's wild life style also became increasingly notorious among fellow musicians and fans.

Drugs abuse that spiraled out of control halted the band's progression and left the fans guessing on the band's ability to survive without killing each other. While still managed to write more materials and did some gigs here there, Getah was slowly entering the limbo.

Then came their first tragedy, Beoy Feisal, their eccentric and brilliant guitarist passed away in late 1998 while visiting a Halloween party in the city of Jogjakarta by himself. His death shocked the band and their friends. The band's additional keyboards player, Peter St. John, was bestowed the honor to fill in as Getah's lead guitarist. Shortly thereafter, Tyo Nugros, the drummer, left to join a famous pop-rock outfit Dewa 19.

With several additional drummers taking turns in handling the duty, Getah managed to record and release a 2-song EP "Green Wine" & "Missing" on cassette in 2001. Limitedly printed and circulated, the EP became a must-have for music collectors in Indonesia. Also in the same year, the song "Closing Chapter" was chosen as a soundtrack for the movie "Gerbang 13". During this period, Adra Dala, a dedicated jazz keyboardist, was abducted and forced to swear allegiance to Getah.

As if serving as a premonition, the song "Closing Chapter" became the last song Jodie Gondokusumo, ever released with Getah. He passed away in 2002 after a long drawn-out battle with his health problems. The band was never more devastated. All friends and many fans attended Jodie's funeral to pay a tribute to him. The rest of the band took a break to mourn and reflect.

With nobody to front the band, Marcel Marcive played double duty as the bassist and the new singer. A new permanent drummer, Agung Cakra Menggala, joined Getah and brought his own unique blues-influenced style to the band. Getah did several shows in Jogja, Bogor and Jakarta. The boys cleaned up their act. Drugs were abandoned for good.

In late 2005, a long time friend of the band, Oddie Octaviadi (frontman and singer of an Industrial metal band, Sic Mynded), went home to Indonesia after spending half of his life in the US. When a local promoter proposed Oddie to do a show in Indonesia with Sic Mynded, he instead offered the gig to Getah.

After a laughters-filled drinking session one night, it was decided mutually that Oddie will front Getah for that one show. The gig fell through but, the bond between Getah and their new singer was created strongly. It was the beginning of Getah's resurrection. The rebirth. The enlightenment through tragedies.

After doing several warm-up shows, the buzz started. Getah reborn. The Indonesian version of the Rolling Stone magazine was first to bring up the story. A three quarter-page length article tells a story of Getah to the old and new generations of Indonesian music lovers.

The band scrambled to restructure their management and musicianship as a gig after another came to their laps. Oddie, Marcel, Peter, & Agung started to write new materials, re-write old materials, record them and rehearse regularly at Peter's SoundX studio in Pondok Indah, Jakarta.

The new album is entitled "Release is Peace" was released in June 2008. It was 10 years in the making and it contains 11 songs that chronicle Getah's movement. "Release is Peace" pays tribute to Getah's friends/fans old and new. It is both an obituary of those who have passed away as well as a joyous celebration of those who are still living. The fans are awaiting in anticipation. They will not be disappointed. They will be hammered by its sheer bright heaviness and sweet slow darkness at the same time.

The Getah revolution starts now.

Booking:
Ken Armunanto +6287877445507
Sam Rock +628164845381
GetahArmy@gmail.com

Extended Propaganda:
http://www.friendster.com/getah
http://getahlengket.multiply.com


Getah dibentuk pada awal tahun 1996 di Jakarta. Pada tahun 1997, dengan beranggotakan Jodie Gondokusumo (vocals), Marcel (bass, vocals), Beoy Feisal (guitars), dan Reeve (drums), album debut Getah dengan judul “Getah” dirilis oleh Warner Music Indonesia. Satu video klip untuk single lagu "Api" dibikin dan sempat lama ditayangkan di televisi2 lokal. Pemunculan Getah di era itu membawa warna baru di musik Indonesia dengan penampilan mereka yang neo-gothic dan lagu-lagu yang melintasi beberapa genre musik. Sayangnya album ini kurang mendapat dukungan promosi yang memadai sehingga kurang terdengar gaungnya di peta musik Indonesia.

Sebagai sebuah band, Getah banyak mengalami perubahan-perubahan formasi, seperti masuknya Tyo Nugros (drums) menggantikan Reeve yang harus kembali ke USA setelah tak lama album rampung direkam. Tyo Nugros yang lalu pindah ke band pop rock Dewa 19 lalu digantikan oleh Bambino. Peter St. John bergabung sebagai keyboardist dan kemudian malah menjadi lead guitarist setelah Beoy meninggal pada tahun 1998. Adra Dala, seorang keyboardist Jazz (Tomorrow People Ensemble), pun bergabung membawa influence bermusiknya yang bertolak belakang dengan corak rock yang diusung Getah. Dalam formasi ini Getah sempat mengeluarkan mini album (EP) “Green Wine” yang hanya dicetak dalam format kaset dan dalam jumlah yang terbatas..

Pada tahun 2002, Jodie meninggal dunia setelah melewati perjalanan panjang melawan penyakit yang dideritanya. Getah sempat mengalami masa vakum yang cukup panjang. Memang tak mudah bangkit bila sebuah band ditinggal pergi frontmannya. Marcel lalu sempat merangkap sebagai pemain bass dan juga vokalis. Dalam periode ini Agung Cakra Manggala bergabung sebagai drummer menggantikan Bambino. Pada awal tahun 2005 Getah ikut serta dalam OST sebuah film action/suspense nasional berjudul “Gerbang 13” dengan menyumbangkan lagu ”Closing Chapter”.

Pada penghujung tahun 2005, Oddie Octaviadi, frontman dari band industrial rock, Sic Mynded, kembali ke tanah air setelah kurang lebih 15 tahun tinggal dan bermusik di Amerika Serikat. Sebuah event organizer di Jakarta menawarkan acara untuk Sic Mynded, namun Oddie malah melemparkan tawaran tersebut ke teman-teman Getah yang sudah lama vakum dari penampilan live. Getah yang saat itu tidak mempunyai frontman akhirnya mencoba untuk berlatih dengan dibantu oleh Oddie sebagai vokalis. Acara live show itu sendiri batal dilaksanakan, tapi ikatan batin dan chemistry antara Getah dan frontman barunya ini telah tercipta. Dari saat itu, Getah berikrar untuk bangkit kembali dengan frontman yang baru.

Bangkitnya kembali Getah ini tercium oleh berbagai media di Indonesia. Majalah Rolling Stone Indonesia lah yang pertama kali mengangkat kelahiran kembali Getah ini dalam sebuah edisi mereka di tahun 2005. Sejak itu Getah terus aktif merambah dari panggung ke panggung dengan formasi Oddie (vocals), Marcel (bass), Peter (guitars), Agung (drums) dan Adra (keyboards). Dari penampilan pertama di klub PARC, konser akbar Soundrenaline, konser Salam Lebaran, Pekan Raya Jakarta / Jakarta Fair, Slankfest, beberapa club-club di Jakarta dan Bandung, hingga band pembuka untuk band pop sepeti Ungu di tour mereka. Tahun 2006 ditutup dengan show perpisahan dengan sang keyboardist, Adra, yang harus hijrah ke Belanda untuk melanjutkan studinya di bidang musik.

Di sela-sela kegiatan manggung yang semakin intensif, Getah pun mulai merintis pembentukan management dan production crew yang solid. Memang bukan hal yang mudah untuk merekrut orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sepaham, akan tetapi Getah sangat beruntung diberkati dengan teman-teman dan pendukung yang setia yang akhirnya bergabung sebagai keluarga besar Getah. Dengan formasi yang baru ini pun Getah masih pula sempat dihantam oleh sebuah kecelakaan yang hampir membinasakan band ini kembali, yaitu ketika pada akhir tahun 2006 Oddie dan Marcel sempat hilang terseret ombak pantai selatan selama lebih dari satu jam. Tapi memang seakan-akan awan hitam yang kerap bernaung di atas Getah masih belum cukup dahsyat untuk menghentikan band ini. Oddie dan Marcel selamat tanpa luka yang berarti dan kembali meneruskan kegilaan Getah.

Di tahun 2007, Getah diminta untuk tampil dalam film layar lebar besutan sutradara Rudi Soedjarwo yang berjudul “In The Name of Love”. Selain menyumbang penampilan live mereka, sebuah lagu Getah berjudul “Segitiga Bermimpi” pun diambil untuk menjadi bagian dari OST film ini bersama nama-nama besar di kancah musik pop seperti Acha Septriasa dan Addie MS. Selain itu juga, di tahun yang sama, Getah mendapatkan penghargaan istimewa dari majalah Rolling Stone ketika album debut Getah dari tahun 1996 terpilih sebagai salah satu dari “150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.

Di pertengahan tahun 2008 Getah merilis album ke dua nya yang berjudul "Release Is Peace", berisikan 11 buah lagu melalui records label Off The Records. Untuk menambah nuansa dalam album ini, Getah pun menampilkan vokalis jazz ternama Syaharani dan orkestrasi dari virtuoso Iwan Hasan, frontman grup progresif rock Discus, dalam lagu “Revolusi Dalam Hati”. Selain itu juga, album ini menampilkan guest musicans seperti Ricky Siahaan dari grup rock Seringai dalam lagu “1,000 Tahun” dan Alexandra J. Wuisan dari Sieve dalam lagu “Kembali Putih” dan “Sepi”. Video klip untuk album ini pun telah dibuat oleh director Tedy Soeriaatmadja / Global Village Pictures (“Badai Pasti Berlalu”, “Ruang”) untuk lagu “Release is Peace”, oleh director Anissa Meutia / Rudi Soedjarwo / Reload Film Center untuk lagu “Parasit Hati” dan “Segitiga Bermimpi”.

Lagu-lagu baru dari album ini sudah sempat diperkenalkan ke publik ketika Getah turut serta dalam perayaan tahun baru 2008 di kota Magelang dengan penonton tak kurang dari 10,000 jiwa. Pada show yang spesial tersebut Getah mendapatkan tamu istimewa, seorang kawan lama yang juga pendukung Getah, yaitu John Paul Ivan, seorang sosok karismatik mantan gitaris Boomerang. Pada akhir tahun 2008 ini juga Getah mendapatkan seorang member baru yaitu Richard Mutter (mantan drummer PAS) yang bergabung menggantikan Agung. Show pertama dengan Richard diadakan pada pesta malam tahun baru 2008-2009 di kota Purwokerto di mana tidak kurang dari 20,000 jiwa ikut bergoyang bersama Getah. Sebuah penghargaan pun datang kembali dari majalah Rolling Stones Indonesia yang menobatkan album ”Release is Peace” sebagai salah satu dari album terbaik tahun 2008.

Revolusi Getah dimulai sekarang Read more on Last.fm. User-contributed text is available under the Creative Commons By-SA License; additional terms may apply.

View All

Getah

Similar Video